Cara Jadikan Olahraga lari Rutinitas Harian agar Awet Muda dan Bebas Stres

Olahraga lari kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Aksesibilitas yang tinggi membuat aktivitas ini digemari banyak orang karena dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa memerlukan peralatan rumit. Di tengah tingginya aktivitas harian, berlari sering kali dijadikan sarana untuk menjaga ketenangan pikiran sekaligus memulihkan keseimbangan hidup.

Kepraktisan tersebut diakui oleh Dynda Puspa Pramedia, Sales Account Executive, Supervisor of Performance Running and Apparel ASICS Indonesia. Menurutnya, daya tarik utama olahraga ini terletak pada kesederhanaannya.”Sebenarnya simpel, orang tahu lari itu olahraga termurah dan tergampang. Bisa dilakukan semua gender, usia, dan kalangan masyarakat. Itulah kenapa lari terus bertahan sampai sekarang,” ujar Dynda.

Akan tetapi, lari tergolong olahraga berintensitas dampak tinggi (high impact) yang memberikan tekanan secara berulang pada persendian. Oleh karena itu, menjadikan lari sebagai kebiasaan harian perlu disikapi secara terencana dengan memperhatikan pemilihan peralatan, teknik yang tepat, serta manajemen waktu pemulihan tubuh agar tidak memicu cedera.

Manfaat rutin berlari bagi tubuh telah dibuktikan secara ilmiah. Dokter Subspesialis Kedokteran Olahraga RSUI, dr. Listya Tresnanti Mirtha, memaparkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan olahraga lari sebagai pemenuhan kebutuhan aktivitas aerobik intensitas tinggi selama 75 hingga 150 menit per minggu.

“WHO sudah menetapkan sebetulnya bahwa lari itu bisa dilakukan sebagai kebutuhan kita untuk mencukupi kebutuhan aerobik. Aktivitas aerobik ini penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke, mengontrol berat badan, serta ternyata memperpanjang usia harapan hidup hingga 7 tahun,” jelas dr. Listya.

Aktivitas aerobik yang teratur terbukti menjaga elastisitas pembuluh darah dan kesehatan organ kardiovaskular. Selain itu, Dynda menyarankan pelari untuk tidak ragu melakukan analisis bentuk kaki di gerai resmi guna mengetahui apakah tergolong flat foot atau normal. Langkah ini penting agar pelari dapat menentukan jenis sepatu yang paling ergonomis sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

Dr. Listya juga memberikan catatan praktis mengenai penggunaan perlengkapan. Pelari disarankan tidak menggunakan sepatu baru saat langsung mengikuti ajang perlombaan. Sepatu baru yang belum beradaptasi dengan anatomi kaki pengguna justru dapat memicu cedera di tengah lintasan.

Bagi sebagian orang, menjaga konsistensi berlari tidak selalu mudah. Kehadiran pelari lain yang bergerak lebih cepat atau menempuh jarak lebih jauh sering kali memicu rasa berkecil hati.

Pelatih lari dari Asics Indonesia, Andriyanto, mengingatkan agar setiap orang berfokus pada perkembangan diri sendiri daripada membandingkan pencapaian dengan atlet profesional atau orang lain. “Yang paling penting adalah merasakan sendiri peningkatan kebugaran tubuh saat berlari,” kata Andri.

Untuk mengukur kemajuan fisik secara objektif, Andri menyarankan pelari memperhatikan tiga indikator sederhana dalam aktivitas sehari-hari:

Jarak Tempuh: Mampu menempuh jarak yang sebelumnya terasa berat secara bertahap tanpa harus sering berhenti.
Respons Tubuh: Pernapasan terasa lebih stabil dan tidak mudah tersengal-sengal saat melakukan aktivitas fisik harian.
Daya Tahan: Indikator paling nyata dari peningkatan kebugaran adalah kondisi tubuh yang menjadi lebih jarang sakit.

Bagi para pekerja yang memiliki jadwal padat, waktu malam sering kali menjadi pilihan realistis untuk berlatih. Menurut Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Keolahragaan (FKOR), Rumi Iqbal Doewes, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah mutlak yang menunjukkan bahwa waktu latihan pada pagi, sore, atau malam hari secara keseluruhan lebih unggul dibandingkan waktu lainnya. Kunci utama efektivitas olahraga terletak pada konsistensi latihan serta kecukupan waktu pemulihan (recovery).

“Waktu yang terbaik adalah waktu yang memungkinkan seseorang berlatih secara konsisten, dengan intensitas latihan yang tepat dan memperoleh recovery yang cukup,” ungkap Rumi.

Meskipun demikian, olahraga berintensitas tinggi yang selesai kurang dari satu jam sebelum tidur berpotensi memperpanjang waktu terlelap dan mengganggu efisiensi tidur. Oleh karena itu, latihan malam perlu disesuaikan dengan kapasitas tubuh.

Berikut panduan lari malam dan keselamatan latihan yang disarankan oleh Rumi,
Panduan Durasi dan Intensitas Lari Malam:

Pelari pemula: Cukup melakukan lari santai rekreasional selama 30–45 menit dengan intensitas ringan.
Pelari terlatih: Durasi 45–60 menit dengan intensitas sedang masih tergolong aman, selama didukung oleh proses pemulihan yang baik.

Ceri188 merupakan situs permainan 4D online gacor yang memberikan pengalaman bermain terbaik dan memuaskan melalui  Ceri188 kepada para pemain yang bermain di situs permainan Joker. Joker Gaming menawarkan berbagai macam permainan yang dapat dinikmati hanya oleh satu pengguna, dan odds permainan yang kami tawarkan juga tidak pelit, karena kami adalah situs permainan Ceri188 4D yang selalu ingin menawarkan kemenangan spesial kepada pemain yang berdedikasi.

Tinggalkan Balasan