Overthinking dan Self-Diagnose di Media Sosial

Belakangan ini, istilah overthinking semakin sering ditemukan di media sosial, mulai dari video pendek, meme, hingga unggahan curahan hati (curhat) yang membuat orang merasa, “wah ini aku banget.” Konten-konten tersebut membuat banyak orang merasa bahwa pengalaman yang ditampilkan sesuai dengan apa yang mereka rasakan. Akibatnya, sebagian orang mulai mencari kecocokan antara kondisi dirinya dengan berbagai gejala gangguan mental yang ditemukan di internet, kemudian menarik kesimpulan sendiri mengenai kondisi psikologisnya. Perilaku seperti ini disebut dengan swadiagnosis atau kita lebih sering menyebutnya dengan self-diagnose. Keterkaitan antara overthinking dan self-diagnose dapat menimbulkan dampak tertentu terhadap kesehatan mental. Tanpa disertai pemahaman serta literasi kesehatan mental yang memadai, kedua fenomena tersebut berpotensi menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan mental.

Suroiyya dan Habsy (2024, h. 132) menjelaskan bahwa overthinking adalah keadaan ketika seseorang memikirkan hal yang sudah maupun belum terjadi secara terus menerus tanpa menemukan solusi, sehingga masalah tampak semakin rumit. Istilah ini populer di kalangan remaja pengguna media sosial (Suroiyya & Habsy, 2024, h. 129). Seorang psikolog dari Fakultas Psikologi UGM menjelaskan bahwa dalam kajian psikologi, overthinking berarti berpikir berlebih yang arahnya negatif. Di masyarakat, maknanya bergeser menjadi sekadar berpikir berlebihan (Ika, 2022). Pergeseran ini bisa membuat kata overthinking dipakai untuk apa saja. Padahal, jika dibiarkan, overthinking dapat memicu kecemasan dan membuat seseorang sampai sulit tidur (Suroiyya & Habsy, 2024, h. 134).

Hazari dan Maghfiroh (2025, h. 649-650) mewawancarai empat remaja perempuan di Surabaya yang merasa memiliki gangguan psikologis setelah melihat informasi di TikTok. Mereka merasa penjelasan yang ditemukan mewakili pengalaman pribadi, bahkan ketika informasinya belum tentu berasal dari tenaga profesional (Hazari & Maghfiroh, 2025, h. 651). Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyebut internet berperan sebagai “cermin digital” (Hazari & Maghfiroh, 2025, h.652). Gambaran ini sejalan dengan pengelitian Rangkuti dan Fitriani (2026, h. 374, 377) terhadap 266 siswa SMA. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara frekuensi mengakses konten kesehatan mental di media sosial dan kecenderungan melakukan self-diagnose. Walaupun hubungan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya sebab-akibat, temuan ini tetap perlu diperhatikan. Paparan konten kesehatan mental yang semakin sering berkaitan dengan kecenderungan yang lebih besar untuk menilai kondisi psikologis diri sendiri.

Meski begitu, self-diagnose tidak selalu buruk. Sebagian subjek dalam penelitian Hazari dan Maghfiroh (2025, h. 653) sempat merasa lega karena merasa “dipahami” lewat informasi yang mereka temukan. Para peneliti menilai self-diagnose dapat dipandang sebagai “bentuk adaptasi terhadap keterbatasan akses layanan kesehatan mental” (Hazari & Maghfiroh, 2025, h. 658). Artinya, sebagian remaja melakukannya bukan karena iseng, melainkan karena belum menemukan tempat yang tepat untuk bertanya. Rangkuti dan Fitriani (2026, h. 379) juga menjelaskan bahwa rasa lega karena menemukan jawaban atas kondisi yang dirasakan dapat menjadi penguat yang mendorong remaja mengulangi perilaku tersebut.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Dalam penelitian Hazari dan Maghfiroh (2025, h. 653), sebagian subjek justru merasa cemas atau takut berlebihan setelah memberi label pada diri sendiri. Seorang subjek terus memikirkan apakah ia benar-benar mengalami bipolar. Subjek lain mengaitkan kecemasannya dengan overthinking yang berdampak pada jam tidurnya (Hazari & Maghfiroh, 2025, h. 653). Pada titik ini, dua gejala tadi bertemu. Jika temuan tersebut dibaca bersama penjelasan tentang overthinking (Suroiyya & Habsy, 2024, h. 132, 134), polanya tampak seperti lingkaran. Overthinking mendorong orang mencari penjelasan di media sosial. Label hasil self-diagnose lalu menjadi bahan baru untuk dipikirkan berulang-ulang dan pikiran yang berulang itu memperberat kecemasan.

Salah satu kunci dari permasalahan terkait overthinking dan self-diagnose adalah literasi kesehatan mental. Ismail dkk. (2023, bagian Results) meninjau 402 mahasiswa di sebuah universitas di Yogyakarta dan menemukan bahwa setidaknya 12,9% dari mereka melakukan self-diagnose. Kelompok ini cenderung memiliki pengetahuan yang lebih rendah dan sikap yang kurang positif terhadap gangguan mental. Para peneliti menjelaskan bahwa orang yang mendiagnosis dirinya sendiri sering memiliki pengetahuan yang kurang akurat tentang kondisi kesehatan mental, sehingga mereka menekankan perlunya edukasi kesehatan mental bagi mahasiswa (Ismail dkk., 2023, bagian Discussion dan Conclusions). Penelitian ini dilakukan di satu universitas dan hanya mengambil data satu kali, sehingga belum bisa memastikan mana sebab dan mana akibat. Hazari dan Maghfiroh (2025, h. 659) juga menyarankan remaja meningkatkan literasi digital dan literasi kesehatan mental dengan mengakses sumber yang kredibel, tidak hanya mengandalkan media sosial. Apabila pikiran yang berulang sudah mulai mengganggu tidur, belajar, atau hubungan dengan orang lain, bantuan juga tersedia. Suroiyya dan Habsy (2024, h. 135) menyebut layanan bimbingan dan konseling berperan penting membantu orang yang mengalami overthinking.

Budaya overthinking dan tren self-diagnose di media sosial merupakan dua fenomena yang dapat saling memengaruhi. Kemudahan memperoleh informasi psikologi melalui media sosial tidak selalu sejalan dengan kemampuan seseorang dalam memahami dan menilai kondisi dirinya secara tepat. Meskipun melakukan self-diagnose dapat memberikan rasa lega untuk sementara waktu, tanpa pemahaman yang memadai mengenai kesehatan mental dan pendampingan profesional, kebiasaan ini justru berpotensi meningkatkan kecemasan serta menghambat seseorang dalam memperoleh bantuan yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, diperlukan sikap yang lebih bijaksana dalam menyikapi informasi psikologi di media sosial. Mengenali berbagai istilah psikologi merupakan hal yang wajar, tetapi kita perlu menghindari kecenderungan untuk menetapkan label tertentu pada diri sendiri.

Ceri188 merupakan situs permainan 4D online gacor yang memberikan pengalaman bermain terbaik dan memuaskan melalui  Ceri188 kepada para pemain yang bermain di situs permainan Joker. Joker Gaming menawarkan berbagai macam permainan yang dapat dinikmati hanya oleh satu pengguna, dan odds permainan yang kami tawarkan juga tidak pelit, karena kami adalah situs permainan Ceri188 4D yang selalu ingin menawarkan kemenangan spesial kepada pemain yang berdedikasi.

Tinggalkan Balasan