Ketika Pasar Pindah ke Layar

Coba ingat kapan terakhir kali Anda berbelanja langsung ke pasar Pindah ke Layar. Bagi banyak orang, jawabannya mungkin sudah lama. Ponsel di genggaman kini bisa membawa sayur, baju, hingga perabot sampai ke depan pintu. Pertanyaannya, apakah peralihan ini sekadar soal praktis, atau ada perubahan sosial yang lebih besar di baliknya?

Ekonomi Tidak Pernah Berdiri Sendirian

Sosiologi ekonomi memandang kegiatan ekonomi sebagai bagian dari kehidupan sosial. Max Weber dan mile Durkheim menyebutnya sebagai penerapan model dan kerangka sosiologi pada persoalan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi. Prof. Damsar merumuskannya sebagai studi tentang bagaimana seseorang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan barang dan jasa.

Mark Granovetter menambahkan gagasan penting: embeddedness. Pelaku pasar memang bertindak rasional, tetapi tindakan itu tetap melekat dalam struktur sosial yang membatasi dan membentuk interaksi ekonomi mereka. Alejandro Portes juga menegaskan bahwa lembaga ekonomi seperti pasar, bank, dan koperasi tidak berdiri netral, melainkan dibentuk oleh relasi sosial.

Artinya, keputusan kita berbelanja bukan hanya hitungan untung rugi. Nilai, kebiasaan, pendidikan, dan lingkungan sosial ikut bermain.

Dari Sawah, ke Pabrik, ke Layar

Perubahan ekonomi hampir selalu diikuti perubahan sosial, lalu perubahan perilaku masyarakat. Indonesia mengalaminya dalam tiga gelombang: dari ekonomi agraris (sawah, kerja tradisional, pasar lokal), ke ekonomi industri (pabrik, pekerjaan formal, produksi massal), hingga ekonomi digital (marketplace, pembayaran digital, gig economy).

Peralihan belanja ke e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop adalah wajah terbaru dari transformasi itu.

Mengapa Orang Beralih ke Online?

Ada tiga pendorong yang menurut saya paling terasa:

Akses internet seluler yang murah dan mudah dijangkau, hingga menjangkau hampir semua lapisan masyarakat, dari perkotaan sampai pedesaan.
Strategi “bakar uang” berupa cashback, flash sale, dan diskon harian yang sangat menarik minat konsumen.
Tren live streaming dan video pendek yang membuat belanja terasa seperti hiburan, atau yang disebut shoppertainment.
Sisi Terang: Hemat dan Terbuka

Bagi konsumen, belanja online menghemat waktu dan tenaga, serta memudahkan perbandingan harga secara transparan tanpa harus berkeliling pasar. Bagi UMKM yang adaptif, peluangnya luar biasa: pelaku usaha kecil bisa menembus pasar lintas kota, bahkan ekspor, tanpa harus menyewa toko fisik yang mahal. Ekosistem digital pun ikut tumbuh bersamanya.

Sisi Gelap: Siapa yang Tertinggal?

Namun di lapangan, ceritanya tidak seindah itu. Pasar fisik di berbagai daerah, seperti Tanah Abang, Pasar Klewer, atau pasar harian lokal, mengalami penurunan jumlah pengunjung. Banyak pedagang konvensional terpaksa menutup toko karena tidak sanggup bersaing dengan perang harga murah di online, ditambah keterbatasan modal.

Ada pula persoalan literasi digital. Sebagian besar pedagang senior kesulitan beradaptasi dengan teknologi. Sementara yang sudah berjualan online pun kerap bergantung penuh pada kebijakan dan potongan komisi dari korporasi pemilik platform.

Di sinilah kacamata sosiologi ekonomi terasa penting. Ia mengajak kita bertanya siapa yang mendapat manfaat dari pembangunan dan siapa yang masih tertinggal. Pertumbuhan ekonomi digital patut dirayakan, tetapi tidak boleh membuat kita buta pada ketimpangan baru yang lahir bersamanya.

Opini Saya: Digitalisasi Perlu Menggandeng, Bukan Menggusur

Menurut saya, pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi. Ia ruang pertemuan sosial, tempat harga dinegosiasikan lewat percakapan dan kepercayaan. Mengabaikan sisi ini berarti memahami ekonomi hanya setengahnya.

Beberapa langkah yang menurut saya layak didorong:

Pelatihan literasi digital bagi pedagang senior dan pelaku UMKM.
Aturan main yang adil soal komisi dan kebijakan platform.
Pemerataan akses internet dan modal usaha di luar kota besar.
Dukungan agar pasar tradisional beradaptasi, misalnya lewat pembayaran digital dan pemasaran daring.

Peralihan dari pasar fisik ke layar adalah perubahan sosial, bukan sekadar tren belanja. Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama: bagaimana memastikan transformasi digital membawa kesejahteraan yang merata, bukan hanya keuntungan bagi sebagian pihak?

Bagaimana pengalaman Anda? Apakah Anda masih rutin ke pasar tradisional, atau sudah sepenuhnya berbelanja online? Mari berbagi di kolom komentar.

Salah satu keunggulan utama rambutan188 adalah banyaknya variasi permainan game yang ditawarkan. Dengan ratusan pilihan permainan game dari berbagai penyedia permainan terkemuka, kami memastikan setiap pemain dapat menemukan permainan yang sesuai dengan seleranya. Dari permainan klasik hingga permainan game dengan grafis dan fitur canggih, semuanya tersedia dalam satu platform rambutan188. Selain itu, kami secara berkala menambahkan permainan game terbaru dengan bekerja sama dengan penyedia baru untuk menjaga kualitas situs permainan agar para pemain tetap terhibur. Kami juga memastikan bahwa setiap permainan yang dimainkannya memiliki mekanisme yang adil dan transparan, sehingga memberikan setiap pemain rambutan188 yang memainkan peluang menang yang seimbang.

Tinggalkan Balasan